SIKAP NEGARAWAN DEDI MULYADI


SIKAP NEGARAWAN DEDI MULYADI
Oleh: 
IDRIS APANDI
(Pemerhati Masalah Sosial Politik)



SIKAP NEGARAWAN DEDI MULYADI
Oleh:
IDRIS APANDI
(Pemerhati Masalah Sosial Politik)

DPP partai Golkar secara resmi merekomendasikan Ridwan Kamil (RK) dan Daniel Muttaqien sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2018-2023. Dengan demikian, harapan Dedi Mulyadi (DM) yang juga Ketua DPD I Partai Golkar Jabar untuk diusung menjadi cagub Jabar oleh partai sendiri tertutup sudah. 

Proses pemberian rekomendasi cagub dan cawagub Jabar dari partai Golkar begitu alot, setelah sebelumnya muncul surat dukungan terhadap RK yang kemudian dinyatakan bahwa surat tersebut bodong. Akibatnya, DM pun melaporkannya ke Polda Jabar. Sebelumnya juga muncul pengakuan dari DM bahwa tidak kunjung keluarnya surat rekomendasi bagi dirinya menjadi cagub Jabar dari DPP Partai Golkar karena dia tidak mampu membayar “mahar politik” sebesar 10 milyar.

Suara-suara kader Golkar Jabar yang meminta surat rekomendasi dukungan terhadap DM berakhir kecewa, karena partai Golkar justru bukan merekomendasikan DM yang secara de facto telah “berdarah-darah” membesarkan partai Golkar di Jabar sekaligus juga kader potensial untuk jadi Gubernur Jabar, tetapi justru merekomendasikan RK, Walikota Bandung yang bukan kader Golkar.

Elektabilitas RK yang berada di atas DM menjadi alasan utama mengapa akhirnya DPP partai Golkar lebih merekomendasikan RK daripada DM sang “anak kandung” Golkar.  Berdasarkan survei Poltracking Indonesia pada Juni lalu, Emil berada di peringkat pertama dengan angka 21,38 persen. Sedangkan Dedi Mulyadi berada di posisi kedua di angka 4,88 persen. DPP Partai Golkar juga merekomendasikan nama Daniel Muttaqien, anggota DPR-RI yang berasal dari partai Golkar dan juga anak dari Irianto Syafiuddin atau akrab disebut Yance, mantan ketua DPD Partai Golkar Jabar.

Politik praktis memang ujung-ujungnya adalah urusan peluang menang-kalah karena orientasi partai politik bukan hanya sebagai alat memperjuangkan ideologi atau idealisme, tetapi sebagai kendaraan untuk mencapai kekuasaan. Oleh karena itu, meskipun bukan kader sendiri yang bisa dijagokan, atau ketika ada figur yang lebih berpotensi menang, maka figur itulah yang akan dipilihnya. Hal tersebut itulah yang semakin memperkuat anggapan orang awam bahwa dalam dunia politik tidak ada kawan atau lawan yang abadi, tetapi hanya kepentingan yang abadi. 

Secara manusiawi, adalah wajar ketika DM, kader partai Golkar Jabar, dan pendukungnya kecewa dengan keputusan DPP partai Golkar tersebut. Mereka menganggap bahwa DPP partai Golkar tidak mau mendengar aspirasi kadernya di daerah yang sudah siap berjuang dan berjibaku memenangkan DM menjadi Jabar 1. 

Jauh-jauh hari, DM beserta pendukungnya sebenarnya telah bergerilya dan melakukan sosialisasi rencana pencalonannya sebagai gubernur Jabar, tetapi kenyataan berbicara lain. DPP Partai berlambang pohon beringin tersebut lebih memilih RK dibandingkan DM. Prestasinya sebagai Bupati Purwakarta selama dua periode tidak menjadikannya sosok yang diusung partainya sendiri.

Pertanyaan yang patut ditunggu adalah apakah mesin partai nantinya akan berjalan ketika kader Golkar harus memperjuangkan atau harus mengampanyekan sosok yang memang bukan menjadi aspirasinya. Selanjutnya apakah suara pemilih golkar Jabar juga akan solid memilih RK atau tidak? Apakah pendukung DM akan mengalihkan suaranya memilih DM atau sebaliknya? 

Beberapa analis politik memprediksikan bahwa suara pemilih golkar akan terpecah, belum tentu akan memilih RK. Bisa saja memilih figure yang lainnya. Pilkada langsung dimana sosok figur yang lebih utama menjadi dibandingkan dengan dukungan partai-partai politik tidak dapat menjamin pemilih partai juga akan memilih calon yang didukung atau diusung partai.

Dibalik kekecewaannya, hal yang patut diacungi jempol dari sosok DM adalah sikap legowo¬ yang ditampilkannya. Dalam siaran pers yang dilaksanakannya di Kantor DPD Partai Golkar di Bandung (07/10/2017), sebagai ketua DPD I Partai Golkar Jabar, dia menyatakan menerima keputusan tersebut. Hal ini dijadikannya sebagai proses pendewasaannya sebagai seorang politisi. Prinsipnya seperti air mengalir, biarkan Tuhan yang menentukan takdir politiknya. Politik bukan hanya urusan jabatan dan kekuasaan, tapi juga urusan takdir Tuhan.

Dia pun berjanji tidak akan meninggalkan partai Golkar walau secara politik, induk semangnya tersebut telah menggagalkan harapannya. Jika diibaratkan keluarga, ternyata orang tua lebih percaya dan mempromosikan anak orang lain dibandingkan dengan memperjuangkan atau mempromosikan anaknya sendiri. Kalau ditanggapi secara emosional, bisa saja DM ngambek, melawan keputusan DPP, menginstruksikan para pendukungnya untuk “menggembosi” calon yang diusung oleh partainya sendiri. Tapi hal tersebut tidak dilakukanya. Salut dengan sikap negarawan DM.

0 komentar: